Tuesday, February 21, 2012

Asma'ul Husna (Ar Rahim)


2
AR RAHIM
(YANG MAHA PENYAYANG)
The Most Merciful

Kata “Ar Rahim” dalam Al Qur’an disebut sebanyak 95 kali. Makna kebahasaan Ar Rahim ada tiga yaitu:
1.       Ar Rahim mempunyai aka yang sama dengan Ar Rahman
2.       AR Rahman hanya disandang oleh Allah
3.       Ar Rahim dapat juga dimiliki oleh manusia
Allah Ar-Rahim
Ar Rahman adalah pengasih di dunia, Ar Rahim adalah penyayang di akhirat.
Ar Rahman adalah pengasih kepada semua mahluk, sedangkan Ar Rahim hanya kepada yang beriman.
Ar Rahman adalah pengasih dengan satu kasih sayang, sedangkan Ar Rahim adalah pengasih dengan seratus kali kasih sayang.
Sesuai dengan Firman-Nya pada surat An Nisa;110
“dan barang siapa yang mengerjakan kejahatandan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampun kepada Allah,niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. An Nisa:110)
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang rasul dari kaummu sendiri, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (Q.S. At Taubah: 128)
Rasulullah memimpin ummatnya dengan cinta , bukan dengan pendekatan kekuasaan ataupun kekuatan, seperti diterangkan dalam ayat diatas bahwa Rasulullah berdakwah dan menyebarkan ajaran islam dengan cinta damai, sehingga islam adalah agama yang Rahmatan Lil ‘Alamin.
Dengan mengingat Allah adalah sebaik-baiknya Penyayang, maka berdo’alah kepada-Nya dan hanya kepadanya kita bergantung karena segala urusan ada dalam pengetahuan-Nya.
Do’anya:
“Ya Tuhanku berilah aku ampunandan kasih sayang, dan Engkau adalah pemberi kasih sayang yang paling baik”.(Q.S. Al Mu’minun:118)
Ar Rahim adalah sifat Allah Yang Maha Penyayang dengan yang dapat juga di dapati pada manusia yaitu manusia sebagai mahluknya mempunyai sifat penyayang kepada anaknya, keluarga, dan lingkungan, dan itu adalah kehendak dari Allah. Maka mintalah kepada Allah yang Maha Penyayang.
Pesan Sosial
Kepedulian Sosial (Menyayangi diri sendiri dan sesama manusia)
Menyayangi diri sendiri menurut pandangan Allah adalah Taqwa sehingga dapat diaplikasikan dengan beribadah terhadapnya yaitu mendirikan shalat, melaksanakan zakat, berpuasa, berdzikir, berhaji dan bershalawat. Itu merupakan cermin bahwa kita menyayangi diri sendiri dan perintah Allah dan As Sunnah dengan melaksanakan perintah-Nya maka kita sekaligus mencintai-Nya (Allah dan rasul-Nya). Tetapi ketaatan seperti itu merupakan hal yang individualistik yang hanya urusan diri sendir dengan yang Maha Penyayang (itu merupakan hubungan kita dengan sang Maha Penyayang=hablumminallah). Perlu diperhatikan juga bahwa kita sebagai manusia juga mempunyai kasih sayang terhadap sesama dan tanggungjawab sosial sehingga perlu juga mengasihi dan menyayangi terhadap sesama dengan melaksanakan sedeqah dan amal ibadah yang lainnya terhadap sesama yaitu dengan saling membantu, peka terhadap nasib penderitaan lingkungan sekitar, bukan berarti kita melaksanakan perintah-perintahnya tapi kita lalai dalam membina hubungan dengan lingkungan sekitar dan sesama. Harus saling sejalan dengan sesama dan berkeadilan sosial bagi seluruh ummat.
Menyayangi Sesama Mahluk
Menyayangi sesama mahluk dalam konteks Ar Rahim yaitu menunjukkan akhlak yang baik bukan saja akhlak terhadap sesama manusia begitu juga dengan hewan dan tanaman atau lingkungan hidup lainnya.
“barang siapa yang ingin mendapatkan perlindungan Allah dari sengatan panasnya api neraka jahannam pada hari kiamat, hendaklah ia menyayangi orang mukmin, (inilah) kelembutan hati” Abu Bakar r.a.
Landasan sikap dan mental
-         Mengasihi dan menyayangi dengan sesama melalui perilaku yang nyata, bukan hanya prihatin tapi bantu dengan tindak lanjut dan amalan yang riil (nyata) sesuai potensi yang ada.
-         Menujukkan akhlak yang baik, karena Rasulullah di utus untuk menyempurnakan akhlak atau perilaku jadi kita harus juga bisa menjadi perilaku yang menyenangkan bagi orang banyak,tidak berkontribusi dalam perusakan lingkungan. Dan sesnantiasa melindungi dan melestarikan lingkungan, entah itu budaya yang sesuai, ataupun alam.
-         Mendukung segala bentuk kepadulian sosial dan lingkungan hidup.
-         Menunjukkan solidaritas dan saling menyayangi antar personil organisasi dan perusahaan.
“Sahabat yang beriman ibarat mentari yang menyinari, sahabat yang setia ibarat pewangi yang mengharumkan, sahabat sejati menjadi pendorong impian, sahabat berhati mulia membawa kita kejalan Allah”. (M. Antonio Syafi’i).

Daftar Pustaka
2.       hadits online, http://id.lidwa.com/app/ 
3.       td.informasi, http://td-informasi.blogspot.com/
Post a Comment

Sahabat Dori